Kreatifitas Pelajar / Mahasiswa Indonesia Saat Ujian

Tindakan mencontek sudah lumrah di lakukan di Indonesia. Apalagi di kalangan pelajar ataupun mahasiswa.

Cheating atau mencontek dalam wikipedia diartikan sebagai tindakan bohong, curang, penipuan guna memperoleh keuntungan tertentu dengan mengorbankan kepentingan orang lain.

Mencontek itu banyak contohnya, Seperti : Siswa atau Mahasiswa yang di beri tugas untuk membuat makalah oleh guru atau dosenya, mereka pasti memanfaatkan kecanggihan teknologi yaitu internet, disayangkan mereka langsung men-copy-paste tanpa memahami isinya. parahnya mereka tidak memberikan sumber (link) yang memuat materi tersebut.

Tidak hanya copy-paste saja wujud dari mencontek. 
Membuat salinan untuk jawaban Ujian, Menjiplak Jawaban milik orang lain, dan masih banyak lagi macamnya. Selain itu Banyak orang menduga bahwa maraknya korupsi di Indonesia sekarang ini memiliki korelasi dengan kebiasaan menyontek yang dilakukan oleh pelakunya pada saat dia mengikuti pendidikan.

Sekolah-sekolah yang permisif terhadap perilaku nyontek dengan berbagai bentuknya, sudah semestinya ditandai sebagai sekolah berbahaya, karena dari sekolah-sekolah semacam inilah kelak akan lahir generasi masa depan pembohong dan penipu yang akan merugikan banyak orang. 


Secara psikologis, mereka yang melakukan perilaku nyontek pada umumnya memiliki kelemahan dalam perkembangan moralnya, mereka belum memahami dan menyadari mana yang baik dan buruk dalam berperilaku. Selain itu, perilaku nyontek boleh jadi disebabkan pula oleh kurangnya harga diri dan rasa percaya diri (ego weakness). Padahal kedua aspek psikologi inilah yang justru lebih penting dan harus dikembangkan melalui pendidikan untuk kepentingan keberhasilan masa depan siswanya. Akhirnya, apa pun alasannya perilaku nyontek khususnya yang terjadi pada saat Ujian Nasional harus dihentikan.

Di Tiongkok ada peraturan / undang-undang untuk pelajara / mahasiswa, dimana pelajar /mahasiswa tersebut akan dikenakan hukuman 3 atau samapai 7 Tahun Penjara. Luar biasa bukan..!!!
Itu tergantung beratnya pelanggaran yang dilakukan.
Pelajar yang kepergok melakukan kecurangan dalam ujian bakal dipenjara 3 tahun. Sedangkan untuk kasus yang lebih berat lagi maka akan diberikan hukuman hingga 7 tahun penjara. Hukuman penjara ini diharapkan dapat menghilangkan kebiasaan buruk tersebut.
Hong Daode profesor hukum pidana di Universitas Ilmu Politik dan Hukum Tiongkok mengatakan kalau amandemen baru tersebut menjadi pencegah kuat untuk siswa yang menyontek.
“Hal ini dapat membersihkan ujian dari segala kecurangan dan meningkatkan integritas pribadi,” ujar Hong Daode.
Kecurangan selama ujian di Tiongkok memang telah menjadi hal yang umum di sana. Beberapa siswa bahkan menyewa orang pengganti untuk melakukan ujian mereka dan ada pula yang menggunakan teknologi canggih untuk menyontek. 

Seandainya di Indonesia dapat diterapkan peraturan yang serupa, besar kemungkinan para pelajar / mahasiswa agan lebih giat lagi untuk belajar. Atau akan sebaliknya mereka akan berhenti belajar karena merasa kesulitan dan putus asa.

Itulah Bentuk kreatifitas Pelajar/Mahasiswa Indonesia.  Yaitu MENCONTEK....
uppss...!!!!
Jangan ditiru ya...😁😝😝😝😝😝

0 komentar:

Bahan Bacaan Untuk Motivasi Mahasiswa

Kehidupan setelah lulus SMA memang terkadang mulai menimbulkan depresi bagi sebagian generasi muda. Lulus dari SMA menuntut kita untuk mulai menentukan pilihan. 

Apakah kita akan memilih untuk memperpanjang masa remaja kita sebagai seorang mahasiswa atau kita akan mulai kehidupan sebagai orang dewasa yang mulai mencari pundi-pundi rejeki. Menurutku, masa-masa lulus SMA adalah masa-masa pemaksaan waktu untuk menjadi dewasa dengan menentukan sebuah keputusan pelik. Dimana suasana SMA yang kental akan waktu bersenang-senang harus diakhiri dengan paksa karena sebuah keadaan.


Menjadi dewasa seakan bukan merupakan pilihan kami. Siapa yang ingin tumbuh menua dengan bermacam-macam tanggung jawab pelik di kehidupannya? Rasanya hidup sudah kepalang berengsek untuk kami pikirkan, pasalnya pilihan yang ada di kepala kami hanyalah menjadi pegawai sekarang atau nanti? Dipungkiri atau tidak, nyatanya cita-cita terbesar masyarakat Indonesia hanyalah sebatas menjadi pegawai. Jadi, yang menjadi pembeda dalam pikiran kita saat itu hanyalah apakah kita ingin menjadi pegawai lulusan SMA atau sarjana?Kebanyakan memang ingin melanjutkan pendidikan dengan menjadi seorang mahasiswa. Alias menjadi seorang yang sedang berusaha memperpanjang masa bermain, menunda masa dewasa datang, menghindari tanggung jawab, mencoba menjadi anak yang terus-terusan di perhatikan orang tua, menjadi seorang pengangguran yang tidak kentara. Bukankah itu semua memang kedok seorang mahasiswa?


Sedangkan bagi mereka yang memilih bekerja setelah lulus SMA menjadi sebuah tantangan yang berat. Kebanyakan mereka yang tidak memiliki biaya memang tidak memiliki pilihan untuk melanjutkan pendidikannya, jadi mereka harus bekerja untuk melanjutkan hidupnya dan keluarganya. Sayangnya, lapangan pekerjaan bagi seseorang lulusan SMA tidaklah memiliki banyak pilihan. Susah untuk berkarir dalam arti yang sebenarnya untuk para pemegang ijazah SMA. Lantas apakah kita akan terus menjadi rantai terbawah sebuah pekerjaan? Memang kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan kita sendiri dengan berbisnis, namun kenyataannya disekolah kita hanya dibekali keterampilan meghitung fisika atau berkutat dengan rumus-rumus kimia yang nyatanya tidak banyak membantu dalam kehidupan sebenarnya, lantas untuk menciptakan sebuah lapangan pekerjaan sendiri menjadi pilihan kesekian jauh dibawah pilihan menjadi pegawai ataupun karyawan.Mari kita mengatakan bahwa mereka yang bisa menjadi mahasiswa adalah orang yang beruntung. Namun, banyak yang tidak bersyukur atas keberuntungan tersebut. Menjadi seorang mahasiswa tidaklah murah. Apalagi jika memilih untuk merantau. Namun, terkadang banyak mahasiswa yang masih belum memiliki mimpi hal apa yang hendak mereka lakukan di masa datang.


Disaat orang tua memeras banyak keringat untuk mengirimkan uang agar kita tidak kelaparan di kota orang, kita hanya bisa mengeluh dengan semua tugas yang ada. Disaat orang tua kita mendoakan keselamatan kita, kita hanya berdoa agar dosen berhalangan dan kelas diliburkan. Disaat orang tua kita rela berhemat demi mencukupi uang bulanan kita, kita hanya berusaha memaksakan mencontoh gaya hidup para hedonis.


Jika kita berangkat menjadi mahasiswa karena niat yang salah, please guys, we are not a child anymore. Jika kalian mencari alasan bahwa kalian dipaksa ortu lah, jurusan itu bukan passion kalian lah atau apapun lainnya, coba sekali saja berpikir bahwa diluar sana banyak yang tidak seberuntung kalian. Mengapa kita tidak bersyukur saja atas hidup yang tengah kita jalani? Toh mengutuk apa yang ada juga bukan sebuah penyelesaian. Coba berpikir berapa banyak waktu yang terbuang dengan hidup kalian yang seperti itu-itu saja? Karena waktu adalah hal yang paling mahal bagi seorang manusia. kalian tidak akan bisa membeli waktu dimanapun, walaupun kalian akan memberikan nominal yang besar untuk itu.


Pastinya kita tidak ingin menjadi satu dari sekian banyak sarjana yang menganggur. Bukankah kita harusnya menjadi salah satu yang menyelesaikan masalah bangsa yang makin pelik bukan menjadi salah satu bagian dari masalah bangsa itu sendiri?

0 komentar:

AKTIVIS YESS....!!! AKADEMIS OK...!!!!!!

Kata aktivis rasanya sudah tidak asing lagi ditelinga. Saat pertama kali mendengar kata aktivis mungkin yang terlintas dibenak kita adalah mahasiswa yang kritis, idealis, jarang kuliah, lulus lama, urakan, kerjaannya demo atau berbicara masalah politik. Apakah benar aktivis identik dengan hal – hal tersebut? Perlu kita ketahui bahwa banyak aktivis yang berprestasi, berpenampilan rapi dan lulus tepat waktu. Dengan kata lain judgement tersebut bukan merupakan konsekuensi sebagai aktivis melainkan pilihan pribadi masing-masing untuk berperilaku.

Dengan segudang kesibukan dalam berpikir maupun bertindak aktivis tentu jauh dari sebutan apatis atau hedonis. Kebanyakan aktivis dikalangan mahasiswa berasal dari anggota aktif organisasi sehingga aktivis lekat dengan kata organisasi. Melihat banyak organisasi yang semangatnya mulai meredup dewasa ini patut dipertanyakan bagaimana peran dan partisipasi anggota dalam kegiatannya. Fenomena saat ini mahasiswa mengikuti organisasi hanya sebagai pelarian dari aktivitas perkuliahannya, hanya menyenangkan diri saja sehingga tugasnya sebagai aktivis terlupakan. Jika seperti itu apakah patut setiap anggota organisasi dikatakan aktivis? Lalu bagaimana seseorang dapat dikatakan sebagai aktivis?

Ada stigma yang masih hidup hingga sekarang bahwa antara akademik dan aktif organisasi tidak bisa berjalan berdampingan. Sebagai mahasiswa tentunya kita tidak begitu saja menelan mentah, stigma tersebut beredar hanya berdasarkan sedikit kasus saja. Karena mahasiswa sebagai akademisi harus mampu menunjukkan intektualnya dengan berprestasi sedangkan mahasiswa sebagai agen perubahan dan pengabdi bisa ditunjukkan salah satunya dengan aktif di organisasi. Sejarah telah membuktikan bahwa menjadi aktivis memberikan dampak luar biasa untuk masa depan dengan deretan nama tokoh besar Indonesia yang dulu aktif berorganisasi.

Jika faktanya menjadi aktivis dan akademik yang berprestasi bisa dijalani bersama dan menunjang kesuksesan dimasa depan, lalu langkah apa yang akan dan telah kita lakukan untuk sukses dalam kedua hal tersebut? 
MARI KITA DISKUSIKAN !
"Sekali bendera dikibarkan, harap lipat kembali untuk kegiatan yang akan datang.
Hentikan ratapan dan tangisan.
Duduk tertindas atau bangkit melawan.
Tangan terkepal dan maju kemuka".
SALAM PERGERAKAN..!!!

0 komentar:

Kepada Tuhan Yang Tak Kukenal


Sekali lagi, sebelum kuteruskan perjalananku
Dan mengirimkan pandanganku kedepan,
Aku ngangkat tangan dalam kesepian
Kepadamu, ketempat aku melarikan diri,
Kupersembahkan dari lubuk hati yang terdalam
Altar-altar secara khidmat,
Supaya senantiasa
Suaramu memanggilku lagi.

Diatasnya membara terukir dalam
Sang kata: kepada Tuhan yang tak dikenal.
Aku miliknya, walaupun aku sampai sekarang
Tinggal dalam gerobolan penghujat:
Aku miliknya – dan kurasakan jerat-jerat,
Yang dalam perkelahian menarik aku kebawah
Dan, biarpun aku melarikan diri,
Toh memaksaku menjadi hambanya.

'Ku ingin mengenalmu, Yang tak dikenal,
Kau, yang menggarap jiwaku dalam-dalam,
Yang ngembarai kehidupanku bagaikan badai,
Kau yang yang tak dapat dimengerti, yang sejenis denganku!
Kuingin mengenalmu, malahan menjadi hambamu.


0 komentar: