FILOSOFI MAWAR


1. “Ia berduri bukan untuk melukai, namun untuk melindungi diri.”
“Jangan takut terlihat tegas, galak atau berani. Itu bukan untuk ditakuti, namun untuk menjaga diri.”


2. “Bunga yang indah, selalu dicari banyak orang.”

“Jadilah sebaik mungkin dari dirimu, niscaya banyak orang yang akan mencarimu.”


3. “Warnanya indah dan mampu menghias taman dan pekarangan.”

“Jadilah baik, sukses, cerdas dll. Namun jangan lupa, jadikanlah semua itu bermanfaat untuk sekitarmu.”


4. “Tumbuh menawan, dengan ciri khas warnanya.”
“Beranjaklah menjadi sosok yang istimewa, dengan ciri khas dirimu sendiri.”


5. “Mawar, sang bunga penanda rasa cinta dan kasih sayang.”
“Dalam hidup ini, engkau mau dikenal sebagai sosok seperti apa. Pembuat senang, pembawa resah, pemicu sedih atau apa???”


6. “Mawar, ditanam dimanapun seolah tetap begitu indah.”
“Jadilah orang yang dimanapun berada tetap membuat orang lain merasa bahagia karena kebaikan-kebaikanmu.”


7. “Mawar, seindah apapun itu. Nantinya tetap akan layu dan akhirnya mati.”
“Ingatlah bahwa seindah dan serupawan apapun dirimu. Hal itu bukanlah sesuatu yang kekal, kau akan mengeriput, tua dan mati.”

0 komentar:

Penikmat atau Pelaku Sejarah


Cerita masalalu banyak mengajarkan kita tentang perjalanan kehidupan, Pemuda sebagai Iron Stock bangsa ini jangan pernah melupakan sejarah.

Sejarah adalah kejadian yang terjadi pada masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan - peninggalan berbagai peristiwa. Peninggalan peninggalan itu disebut sumber sejarah.

Dalam bahasa Inggris, kata sejarah disebut history, artinya masa lampau; masa lampau umat manusia. 
Dalam bahasa Arab, sejarah disebut sajaratun (syajaroh), artinya pohon dan keturunan. Jika kita membaca silsilah raja-raja akan tampak seperti gambar pohon dari sederhana dan berkembang menjadi besar, maka sejarah dapat diartikan silsilah keturunan raja-raja yang berarti peristiwa pemerintahan keluarga raja pada masa lampau.

Dalam bahasa Yunani, kata sejarah disebut istoria, yang berarti belajar. Jadi, sejarah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa, kejadian yang terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia.

Dalam bahasa Jerman, kata sejarah disebut  geschichte yang artinya sesuatu yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia. Adapun menurut Sartono Kartodirdjo, sejarah adalah rekonstruksi masa lampau atau kejadian yang terjadi pada masa lampau.

Ada tiga aspek dalam sejarah, yaitu masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Masa lampau dijadikan titik tolak untuk masa yang akan datang sehingga sejarah mengandung pelajaran tentang nilai dan moral. 

Pada masa kini, sejarah akan dapat dipahami oleh generasi penerus dari masyarakat yang terdahulu sebagai suatu cermin untuk menuju kemajuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

Namun disisi lain kita jangan hanya membaca dan mempelajari sejarah, namun kita harus dapat menorehkan sejarah, setidaknya kita menjadi bagian dari sejarah tersebut, bagaimana caranya?? Dengan cara berkarya dan melakukan hal-hal yang positif.

Boleh kita bebicara masalalu, namun tindakan harus fokus untuk masa depan.
Inilah yang membedakan antara orang tua dengan pemuda. 

Kalau orang tua,  mereka berbicara "Dulu kami, Dulu saya.. Dulu dan Dulu". 

Berbeda dengan pemuda, jika berbicara "Besok saya, Besok Kami. Besok dan Besok".

Kita adalah generasi penerus bangsa, apa yang kita lakukan saat ini adalah sebagian dari sejarah, namun tergantung apa yang kita lakukan, apakah sejarah tertulis atau hanya kenangan pribadi saja.
Sebagi generasi penerus mari kita torehkan sejarah yang positif dalam kehidupan kita agar dapat bermanfaat untuk generasi setelah kita. Lakukan dan Berikan yang terbaik.

Jadi, kita harus Membaca dan Mempelajari sejarah masalalu untuk dasar kita menuju kehidupan masa depan JAS MERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).



Namun kita harus tetap fokus menatap masa depan. Selayaknya kita berjalan pandangan kita harus fokus kedepan, meskipun sekali-kali kita memandang kebelakang.


Sekali Bendera Dikibarkan.
Harap Lipat Kembali Untuk Kegiatan Yang Akan Datang.
Hentikan Ratapan dan Tangisan.
Duduk Tertindas atau Bangkit Melawan.
Mundur Satu Langkah adalah Suatu Bentuk Pengkhianatan.

Tangan Terkepal dan Maju Kemuka.

0 komentar:

Jabatan Bukan Untuk Para Pengejar Jabatan


Sejatinya yang merusak tatanan dan keharmonisan dalam organisasi itu adalah musuh dalam selimut, yaitu  orang-orang yang memiliki kepentingan dan mengejar-ngejar jabatan. Ia menjadi profokasi untuk menjatuhkan orang lain. 
Apa yang orang lain lakukan selalu ia cari Selah keslahannya Sehingga dapat dengan mudah ia singkirkan.

Perlu kita sadari bahwannya jabatan dan kedudukan itu adalah sebuah titipan (Amanah) Yang tak perlu dikejar mati-matian sampai harus menghalalkan segala cara. Karena jika itu udah rezeki kita ia takkan kemana.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihatkan kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلُ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).”

Hadits ini diriwayatkan al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya no. 7146 dengan judul “Siapa yang Tidak Meminta Jabatan, Allah subhanahu wa ta’ala Akan Menolongnya dalam Menjalankan Tugasnya” dan no. 7147 dengan judul “Siapa yang Meminta Jabatan Akan Diserahkan Kepadanya (Dengan Tidak Mendapat Pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala dalam Menunaikan Tugasnya).”


Menjadi seorang pemimpin dan memiliki sebuah jabatan merupakan impian semua orang kecuali sedikit dari mereka yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Mayoritas orang justru menjadikannya sebagai ajang rebutan khususnya jabatan yang menjanjikan lambaian rupiah (uang dan harta) serta kesenangan dunia lainnya.

Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 7148).


Manusia sebagai mahluk sosial seharusnya saling melengkapi dan saling mendukung satu samal lain, apalagi dalam satu organisasi / instansi, jika atasan atau pimpinan kita ada kekurangan atau kesalahan itu dilengkapi dan diingatkan bukannya dipojokkan atau bahkan disingkirkan.

Setiap organisasi tidak akan pernah berkembang jika didalamnya banyak orang yang gila jabatan dan kepentingan.
Jika semua itu dilandasi dengan kepentingan maka "Teman jadi Lawan, dan Saudarapun akan menjadi Musuh".

Akhir kata, penulis berpesan Kepada dirinya sendiri dan umumnya kepada para pembaca, "Jangan menjadi profokator untuk menjatuhkan orang lain, dn jangan pernah ada kepentingan dalam beroganisasi, berorganisasi itu harus Ekstra baik loyalitas, totalitas serta Ikhlas".
Saling melengkapi dan mengingatkan untuk kebaikan organisasi, bukan saling menghujat atu menjatuhkan.

Setiap orang itu memiliki bagian dan massanya masing-masing, tak perlu berambisi, jika kita layak semua akan datang kapada kita tanpa harus kita kejar mati-matian.

Tangan Terkepal dan Maju Kemuka.


Ditulis oleh Juniska,SH Kader PMII Kabupaten OKI SUM-SEL




0 komentar:

Jabatan Itu Amanah


Sesungguhnyakami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, makasemuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusiaitu amat zalim dan amat bodoh.
(QS.Al Ahzab: 72).
Amanah yang dibeban Allah kepada hambanya itu bermacam-macam. Di sini amanah sinonim dengan kewajiban dan beban seorang pribadi. Secara umum amanah itu dibagi menjadi dua;amanah individu dan sosial. Amanah bersifat individu misalnya amanah fitrah. Dimana Allah menjadikan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada tauhid, kebenaran, dan kebaikan. Tugas manusia adalah menjaga dan melestarikan fitrahnya agar senantiasa selaras dengan syariat Allah dan waspada terhadap dorongan hawa nafsu agar tidak menyimpang. (Al-A’raf: 172). 
Amanah individulainnya, adalah amanah taklif syar’i, dimana setiap hamba yang sudah memenuhi syarat tertentu dibebankan menunaikan kewajiban syariat Allah. Selain itu amanah individu ada amanah tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama).Di satu sisi ini bertujuan menjaga agama itu sendiri dari campur tangan manusia. Di sisi lain ia sebagai rujukan manusia dalam urusan agama.

Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidakpergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalampengetahuan mereka tentang agama.” (At-Taubah: 122)


Sementara amanah bersifat sosial adalah amanah dakwah. Setiap Muslim berkewajiban menyampaikan Islam kepada masyarakat. Tujuannya adalah membangun masyarakat Muslim sesuai dengan aturan Allah. Sehingga ia mampu menunaikan amanah lebih besar yakni amanah untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Tujuannya agar manusia tunduk hanya kepada Allah Ta’ala dalam segala aspek kehidupannya.

Menyerahkan Urusan Yang Bukan Amanah

Menunaikanamanah bukanlah pekerjaan ringan. Bahkan langit, bumi dan gunung-gunung tidak mampu mengembannya. Allah swt berfirman:

Sesungguhnya kami telahmengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya engganuntuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dandipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim danamat bodoh.” (Al Ahzab: 72).

Manusia diberi beban amanah kerena ia memiliki kemampuan berbeda dengan benda-bendapadat. Manusia memiliki hati dan akal fikiran, keimanan, perasaan kasih sayang empati kepada sesama yang mendukungnya menunaikan amanah. Amanah itu menentukan nasib sebuah bangsa. Jika setiap orang menjalankan tugasnya dengan penuh amanah dan tanggungjawab maka selamatlah mereka. Sebaliknya jika diselewengkan maka hancurlah sebuah bangsa. Sehingga Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya,

“Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?.Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (Bukhari dan Muslim).

Namun demikian amanah itu memiliki tingkatan dan kadar berat ringannya. Beratnya amanah dipengaruhi oleh faktor kapabilitas dan ruang lingkup dan cakupan penunaiannya.Semakin tinggi kapabilitas, jabatan dan luas ruang lingkup seseorang, maka semakin berat pula amanahnya. Di sini bisa katakan bahwa amanah kepemimpinan adalah paling berat. Tak heran bila ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan amanah seperti di atas lebih ditujukan kepada para pemimpin, pejabat publik,dan penegak hukum. Karenanya, Islam memiliki perhatian besar terhadap masalah yang satu ini.

Dalam halamanah jabatan (apakah sebagai anggota DPRD, Camat, Bupati/Walikota, Gubernur, Menteri atau  bahkan Presiden atau Jabatan lainnya dikalangan Masyarakat/Kepemudaan/Kemahasiswaan) bukanlah sesuatu yang diminta-minta atau dengan mengemis-ngemis apalagi dikejar dengan segala cara tanpa mempedulikan prinsip-prinsip agama. Sebab jabatan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia. Karena itupula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi sawbersabda:

Wahai Abu Dzarr, kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian, kecuali orang yang memang berhak dan menunaikan amanah itu.” (H. R. Muslim).

Oleh karenanya, para ulama yang memiliki perhatian besar terhadap kepemimpinan dan politik Islam rata-rata memiliki buku khusus menguraikan hal ini. Ibnu Taimiyahmisalnya memiliki buku “Al-ahkam as-sulthaniyah” (hukum-hukum terkait kekuasaan). Di dalamnya Ibnu Taimiyah menguraikan urgensi kepemimpinan, ”Penunjukkan seseorang sebagai pemimpin merupakan salah satu tugas agama yang paling besar. Bahkan agama tidak akan tegak, begitu juga dunia tidak akan baiktanpa keberadaan pemimpin. Kemaslahatan umat manusia tidak akan terwujud kecuali dengan menata kehidupan sosial, karena sebagian mereka memerlukan sebagian yang lain. Dalam konteks ini, kehidupan sosial tidak akan berjalan dengan baik dan teratur tanpa keberadaan seorang pemimpin”.

Terkait halyang sama Imam Ghazali menegaskan, “Dunia adalah ladang akhirat. Agamatidak akan sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah kembaran.Agama adalah tiang sedangkan penguasa adalah penjaganya. Bangunan tanpa tiang akanroboh dan apa yang tidak dijaga akan hilang. Keteraturan dan kedisiplinan tidakakan terwujud kecuali dengan keberadaan penguasa”.

Inilah yang menjadi alasan kenapa pemimpin itu memiliki amanah lebih berat di bandinglainnya. Semakin tinggi cakupan kepemimpinannya semakin berat amanahnya. Itujuga diperjelas dengan sabda Rasulullah Saw: 
“Setiap kalian adalahpemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelakiadalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hambaadalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.”  (Muttafaq ‘Alaih)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridlo’i Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”



Sebagian besar orang lebih memahami jabatan dan pangkat sebagai penghargaan dan penghormatan serta prestisius ketimbang sebagai amanah dan tanggungjawab. Sehingga di negeri ini amanah kepemimpinan dan jabatan diperebutkan secara massiv.Tokoh dan pemimpin berlomba-lomba memperebutkan amanah itu. Masyarakat tidak memiliki jalan lain kecuali harus memilih mereka. Namun sebagai muslim tetapharus berperasangka baik kepada mereka bahwa itu dalam rangka kompetisi dalamkebaikan. Tugas kita adalah mengenal dan memiliki informasi watak, trackrecord, moral, visi misi calon-calon pemimpin bangsa itu. Apakah watak dan moralnya diharapkan mampu mengemban amanah atau berpotensi menyimpang. Apakah visi dan misinya ingin menegakkan syariat Allah di bumi ini sehingga menjadi negeri makmur “Gemah Ripah loh Jinawi” yang diberkahi Allah? Ataukah justrumempersempit ruang penerapan syariat Islam di segala bidang. 

Tunaikanlah Amanahmu, Karena Pasti Akan Dipertanggung Jawabkan.

0 komentar:

Loyalitas dan Totalitas


Pernahkah Anda merasakan di suatu saat, Anda memberikan seluruh kemampuan Anda dalam menyelesaikan pekerjaan Anda tetapi yang didapatkan oleh Anda adalah dikucilkan, dibiarkan bahkan tidak dipedulikan walaupun hanya ucapan terima sekali  padahal jika tidak dilakukan oleh Anda maka akan "kacau balau" semuanya. 

Saya rasa, hampir semua orang pernah merasakan hal tersebut. Hanya mungkin kadar dan frekuensinya berbeda - beda. Ada yang hanya sekali, ada yang kadang - kadang dan ada juga yang sangat sering mendapatkan hal tersebut.

Sebelum lebih jauh membahas terkait dengan totalitas dan loyalitas, totalitas merupakan suatu tuntutan dalam hal apa saja, totalitas dalam berpikir, berbicara dan juga totalitas dalam berbuat. Ketika seseorang sedang berpikir maka yang dibutuhkan adalah totalitas dalam berpikir, begitu juga dalam berbicara dan bertindak. Bekerja tidak luput dari tuntutan totalitas dalam melakukan suatu pekerjaan.


Lalu, apa itu totalitas?  
Menurut saya, totalitas adalah sikap bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Jika dikaitkan dalam lingkungan organisasi dengan sikap totalitas seseorang organisator akan berusaha menyelesaikan pekerjaan atau tugas yang telah diberikan dengan sebaik dan semaksimal mungkin. 

Cinta adalah totalitas dalam pekerjaan yang ditunjukkan dengan seberapa besar ketertarikan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Dengan kata lain, bekerja dengan penuh cinta bukan terpaksa itu mungkin salah satu totalitas dalam hal ini. Jika dikaji ulang totalitas itu bukan hal mudah untuk diwujudkan, membutuhkan usaha lebih untuk mewujudkannya.

Kontinuitas adalah  rasa cinta terhadap suatu hal yang akan membuat kita untuk terus melakukannya. Ketertarikan terhadap suatu hal bukan hanya dilakukan untuk jangka waktu tertentu tanpa ada kelanjutannya. Akhirnya terbentuklah suatu kebiasaan yang dilakukan berulang kali atau yang disebut dengan kontinuitas. Kontinuitas sangat dibutuhkan untuk mencapai totalitas dalam suatu hal. Tentunya untuk melakukan suatu pekerjaan, akan sangat menyenangkan jika melakukan hal yang kita senangi. Satu hal yang diinginkan manusia dalam hidup adalah kesenangan. Kecenderungan inilah yang akan menjadikan seseorang untuk terus melakukan sesuatu sesuai dengan kesenangannya. 


Apa itu loyalitas?
Loyalitas berasal dari kata loyal yang artinya adalah setia. Kata loyalitas ini sering ditemui dalam lingkungan organisasi. Loyalitas merupakan suatu hal penting untuk dimiliki seorang organisator, dan bahkan untuk setiap orang. Jika loyalitas sudah diimplementasikan oleh seorang organisator maka keberlangsungan dari organisasinya akan bisa dijamin.  

Loyalitas adalah ketika dua hal diatas dapat dipadukan dengan baik akan lahir loyalitas sebagai jalan untuk menuju totalitas. Tidak akan ada totalitas tanpa loyalitas. Besarnya rasa cinta dan kontuinitas yang ditunjukkan akan menunjukkan tingkat loyalitas seseorang terhadap suatu hal. 

Dalam realita ternyata banyak sekali totalitas dan loyalitas yang telah dilakukan mempunyai ending yang tidak mengenakkan (walaupun ada juga yang endingnya menyenangkan). Banyak yang memandang sebelah mata dan meremehkan. Jangankan reward, sekedar ucapan terima kasih saja kadang tidak terucap. Akhirnya, karena mendapatkan perlakuan dan sikap seperti itu, pada pekerjaan berikutnya kadang - kadang muncul perasaan untuk mengerjakan pekerjaannya seperlunya saja. Hasilnya, pekerjaan pun tidak maksimal dan tidak seperti yang diharapkan. 

1 komentar:

Zona Nyaman Kader Putri PMII


Bukan hal yang mudah berproses dalam dunia pergerakan. Apalagi bagi kader perempuan. Faktanya, banyaknya kajian gender yang katanya untuk melahirkan kader perempuan yang berani dan memiliki semangat pejuang, akhirnya tetap berhenti pada wacana kontekstualisasi gender. Artinya, perempuan tetap harus sadar perannya sebagai perempuan Indonesia dengan segala konstruksi sosial yang ada.
Tantangan bertambah ketika perempuan harus bertemu dengan realitas baru di dunia ketiga. Kecanggihan teknologi memang mempermudah akses terhadap segala sesuatu, bahkan dalam hal informasi. Semua orang termasuk perempuan lebih mudah mengakses apapun yang diinginkan tanpa batas ruang dan waktu.
Sebenarnya ini menjadi peluang besar bagi kader perempuan untuk memiliki kebebasan dalam dunia pergerakan. Akan tetapi, tidak jarang kecanggihan teknologi seperti ini malah menjadi bumerang bagi perempuan itu sendiri, termasuk perempuan yang memilih untuk masuk dan berkecimpung dalam dunia pergerakan, salah satunya menjadi kader PMII.

Kader PMII khususnya perempuan justru mengalami tantangan yang lebih berat. Peluang kebebasan bergerak akibat kecanggihan teknologi justru menjadikan perempuan menjadi objek dari teknologi itu sendiri. Inilah yang kemudian seringkali disebut sebagai determinisme teknologi.
Determinisme teknologi dapat diartikan bahwa setiap kejadian atau tindakan yang dilakukan manusia itu merupakan akibat dari pengaruh perkembangan teknologi. Hal tersebut tidak jarang membuat manusia bertindak di luar kemauan sendiri. Memang pada awalnya, manusialah yang menciptakan teknologi, tetapi seiring berjalannya waktu justru teknologilah yang memengaruhi setiap apa yang dilakukan manusia.
Kader perempuan nyatanya tidak benar-benar mampu bersaing dengan kader laki-laki, terutama dalam hal kuantitas berproses. Bahkan posisi penting dalam organisasi jarang sekali diduduki oleh kader perempuan. Memang kader perempuan tidak harus menjadi ketua atau pimpinan organisasi saat ia dikatakan sudah mengetahui peran dan peluangnya sama dengan laki-laki (gender). Namun, minimnya kader perempuan yang berproses lebih lanjut melahirkan konstruksi tersendiri terkait peran perempuan dalam dunia pergerakan. Mereka hanya mempunyai pilihan untuk lulus cepat atau menikah karena tuntutan sosial.
Kembali ke kajian terkait perkembangan teknologi, kader perempuan justru lagi-lagi menjadi objek kecepatan akses. Apalagi ditambah dengan statusnya sebagai generasi millinneal. Istilah baper(bawa perasaan) seringkali mudah muncul saat kader perempuan dan kader laki-laki berada dalam satu naungan organisasi. Mereka sering bertemu, melakukan aktivitas, dan lain sebagainya.

Bermodal chatting dengan seringnya memberikan perhatian via media sosial mempermudah hubungan antara keduanya. Namun saking mudahnya, akhirnya aktivitas seperti ini sebenarnya tidak hanya dilakukan dengan satu orang saja, melainkan dengan banyak orang. Bahkan seringkali ketika kader perempuan terpaksa terkena virus baper, ia memilih untuk tidak aktif dari organisasinya.

Lagi-lagi perempuan harus menghadapi tantangan seperti ini. Maka tidak jarang pada akhirnya kader perempuan memilih berada di zona nyaman. Adakalanya hanya sebagai pendamping atau bumbu bagi kader laki-laki saja. Bahkan dari segi kuantitas, jelas kader perempuan tidak banyak yang bisa berproses selama kader laki-laki berproses. Bahkan zona paling nyaman ialah ketika sudah menemukan pasangan sesama organisasinya maupun non-organisasi. Kemudian itu menjadi puncak keberhasilan proses kader perempuan, karena faktanya kader laki-laki memiliki banyak ruang untuk berproses serta minimnya tuntutan kontekstualisasi gender.
Juniska (Ketua Umum PC. PMII OKI)




0 komentar: