Jabatan Bukan Untuk Para Pengejar Jabatan
Sejatinya yang merusak tatanan dan keharmonisan dalam organisasi itu adalah musuh dalam selimut, yaitu orang-orang yang memiliki kepentingan dan mengejar-ngejar jabatan. Ia menjadi profokasi untuk menjatuhkan orang lain.
Apa yang orang lain lakukan selalu ia cari Selah keslahannya Sehingga dapat dengan mudah ia singkirkan.
Perlu kita sadari bahwannya jabatan dan kedudukan itu adalah sebuah titipan (Amanah) Yang tak perlu dikejar mati-matian sampai harus menghalalkan segala cara. Karena jika itu udah rezeki kita ia takkan kemana.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihatkan kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلُ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).”
Hadits ini diriwayatkan al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya no. 7146 dengan judul “Siapa yang Tidak Meminta Jabatan, Allah subhanahu wa ta’ala Akan Menolongnya dalam Menjalankan Tugasnya” dan no. 7147 dengan judul “Siapa yang Meminta Jabatan Akan Diserahkan Kepadanya (Dengan Tidak Mendapat Pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala dalam Menunaikan Tugasnya).”
Menjadi seorang pemimpin dan memiliki sebuah jabatan merupakan impian semua orang kecuali sedikit dari mereka yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Mayoritas orang justru menjadikannya sebagai ajang rebutan khususnya jabatan yang menjanjikan lambaian rupiah (uang dan harta) serta kesenangan dunia lainnya.
Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 7148).
Manusia sebagai mahluk sosial seharusnya saling melengkapi dan saling mendukung satu samal lain, apalagi dalam satu organisasi / instansi, jika atasan atau pimpinan kita ada kekurangan atau kesalahan itu dilengkapi dan diingatkan bukannya dipojokkan atau bahkan disingkirkan.
Setiap organisasi tidak akan pernah berkembang jika didalamnya banyak orang yang gila jabatan dan kepentingan.
Jika semua itu dilandasi dengan kepentingan maka "Teman jadi Lawan, dan Saudarapun akan menjadi Musuh".
Jika semua itu dilandasi dengan kepentingan maka "Teman jadi Lawan, dan Saudarapun akan menjadi Musuh".
Akhir kata, penulis berpesan Kepada dirinya sendiri dan umumnya kepada para pembaca, "Jangan menjadi profokator untuk menjatuhkan orang lain, dn jangan pernah ada kepentingan dalam beroganisasi, berorganisasi itu harus Ekstra baik loyalitas, totalitas serta Ikhlas".
Saling melengkapi dan mengingatkan untuk kebaikan organisasi, bukan saling menghujat atu menjatuhkan.
Setiap orang itu memiliki bagian dan massanya masing-masing, tak perlu berambisi, jika kita layak semua akan datang kapada kita tanpa harus kita kejar mati-matian.
Tangan Terkepal dan Maju Kemuka.







0 komentar: