Zona Nyaman Kader Putri PMII


Bukan hal yang mudah berproses dalam dunia pergerakan. Apalagi bagi kader perempuan. Faktanya, banyaknya kajian gender yang katanya untuk melahirkan kader perempuan yang berani dan memiliki semangat pejuang, akhirnya tetap berhenti pada wacana kontekstualisasi gender. Artinya, perempuan tetap harus sadar perannya sebagai perempuan Indonesia dengan segala konstruksi sosial yang ada.
Tantangan bertambah ketika perempuan harus bertemu dengan realitas baru di dunia ketiga. Kecanggihan teknologi memang mempermudah akses terhadap segala sesuatu, bahkan dalam hal informasi. Semua orang termasuk perempuan lebih mudah mengakses apapun yang diinginkan tanpa batas ruang dan waktu.
Sebenarnya ini menjadi peluang besar bagi kader perempuan untuk memiliki kebebasan dalam dunia pergerakan. Akan tetapi, tidak jarang kecanggihan teknologi seperti ini malah menjadi bumerang bagi perempuan itu sendiri, termasuk perempuan yang memilih untuk masuk dan berkecimpung dalam dunia pergerakan, salah satunya menjadi kader PMII.

Kader PMII khususnya perempuan justru mengalami tantangan yang lebih berat. Peluang kebebasan bergerak akibat kecanggihan teknologi justru menjadikan perempuan menjadi objek dari teknologi itu sendiri. Inilah yang kemudian seringkali disebut sebagai determinisme teknologi.
Determinisme teknologi dapat diartikan bahwa setiap kejadian atau tindakan yang dilakukan manusia itu merupakan akibat dari pengaruh perkembangan teknologi. Hal tersebut tidak jarang membuat manusia bertindak di luar kemauan sendiri. Memang pada awalnya, manusialah yang menciptakan teknologi, tetapi seiring berjalannya waktu justru teknologilah yang memengaruhi setiap apa yang dilakukan manusia.
Kader perempuan nyatanya tidak benar-benar mampu bersaing dengan kader laki-laki, terutama dalam hal kuantitas berproses. Bahkan posisi penting dalam organisasi jarang sekali diduduki oleh kader perempuan. Memang kader perempuan tidak harus menjadi ketua atau pimpinan organisasi saat ia dikatakan sudah mengetahui peran dan peluangnya sama dengan laki-laki (gender). Namun, minimnya kader perempuan yang berproses lebih lanjut melahirkan konstruksi tersendiri terkait peran perempuan dalam dunia pergerakan. Mereka hanya mempunyai pilihan untuk lulus cepat atau menikah karena tuntutan sosial.
Kembali ke kajian terkait perkembangan teknologi, kader perempuan justru lagi-lagi menjadi objek kecepatan akses. Apalagi ditambah dengan statusnya sebagai generasi millinneal. Istilah baper(bawa perasaan) seringkali mudah muncul saat kader perempuan dan kader laki-laki berada dalam satu naungan organisasi. Mereka sering bertemu, melakukan aktivitas, dan lain sebagainya.

Bermodal chatting dengan seringnya memberikan perhatian via media sosial mempermudah hubungan antara keduanya. Namun saking mudahnya, akhirnya aktivitas seperti ini sebenarnya tidak hanya dilakukan dengan satu orang saja, melainkan dengan banyak orang. Bahkan seringkali ketika kader perempuan terpaksa terkena virus baper, ia memilih untuk tidak aktif dari organisasinya.

Lagi-lagi perempuan harus menghadapi tantangan seperti ini. Maka tidak jarang pada akhirnya kader perempuan memilih berada di zona nyaman. Adakalanya hanya sebagai pendamping atau bumbu bagi kader laki-laki saja. Bahkan dari segi kuantitas, jelas kader perempuan tidak banyak yang bisa berproses selama kader laki-laki berproses. Bahkan zona paling nyaman ialah ketika sudah menemukan pasangan sesama organisasinya maupun non-organisasi. Kemudian itu menjadi puncak keberhasilan proses kader perempuan, karena faktanya kader laki-laki memiliki banyak ruang untuk berproses serta minimnya tuntutan kontekstualisasi gender.
Juniska (Ketua Umum PC. PMII OKI)




0 komentar: